Wednesday, September 30, 2015

Misteri Huruf-Huruf Qur’an

Setelah bismillah, terdapat dalam 29 surah sekelompok huruf – kadangkala bahkan huruf tunggal – yang telah banyak menyebabkan banyak diskusi dan refleksi dalam sejarah muslim. Dilafalkan secara terpisah sebagai huruf-huruf yang berdiri sendiri dari alphabet, Huruf al-Muqatta’a ini, yang juga dikenal sebagai tergolong dalam ayat-ayat mutasyabihat (allegorical signs) Qur’an. Belum ada penjelasan rasional yang pernah diberikan oleh sarjana muslim maupun sarjana Barat yang mampu membongkar misteri huruf-huruf ini. Dalam karya-karya tafsir, huruf-huruf tersebut telah banyak menimbulkan keheranan, sehingga banyak ahli tafsir melakukan spekulasi-spekulasi mistik melalui Sufisme untuk memahaminya.

Inilah sedikit contoh mengenai pemahaman mereka sebagaimana terdapat dalam karya-karya para ahli tafsir muslim:

Mengutip Ibn Abbas, Tabari misalnya mengatakan bahwa masing-masing huruf itu menunjukkan satu nama Tuhan. Alif, Lam, Mim, yang terdapat dalam bagian permulaan surah Al-Baqarah, dengan demikian berarti Ana allah A’lam (Akulah Tuhan Yang Maha Tahu). Menurut seorang mu’tazili yang lebih rasional, Zamakhsyari, huruf-huruf ini menunjukkan bahwa Qur’an tidaklah bisa ditiru. Seorang sarjana modern, Sayid Qutb, dengan nada yang sama juga mengatakan bahwa huruf-huruf ini mengingatkan kenyataan bahwa “kitab ini disusun dari huruf-huruf yang lazim dikenal oleh bangsa Arab, kepada siapa ia ditujukan”. Dalam pandangan Qutb, misteri dan kekuatan huruf-huruf itu terletak pada kenyataan bahwa meskipun huruf-huruf tersebut begitu lazim dan begitu dikenal, namun manusia tidak akan bisa menciptakan gaya dan diksi yang sama dengannya untuk membuat sebuah kitab seperti Qur’an.

Dalam milieu ta’wil (penafsiran esoterik) yang lebih bebas dan lebih spekulatif, di mana Ibn Arabi boleh dianggap sebagai wakilnya yang paling representative, misteri huruf-huruf ini lebih tersebelubung dalam penjelajahan simbolisme kosmologis. Sebagai misal, terhadap huruf-huruf yang sama sebagaimana telah dikomentari oleh Samakhsyari dan Qutb di atas, Ibn arabi menganggap bahwa alif adalah nama dari esensi Ilahiat, sehingga denga begitu ia merupakan yang pertama dari segala eksistensi; sementara lam, sebaliknya terbentuk dari dua alif, dan bahwa mim mengandungnya. Lebih jauh dia mengatakan bahwa “setiap nama adalah referensi untuk hakikat (esensi), yaitu yang mengandung satu atau lain sifat (atribut). Karena itu mim merupakan referensi terhadap hakikat dengan semua sifatnya; ia juga merupakan referensi terhadap tindakan-tindakan Muhammad”. Menurut Ibn Arabi, jika alif adalah dari nama Tuhan, dan mim merupakan simbol dari sifat dan tindakan-tindakan Muhammad, maka lam yang mengantarai alif dan mim adalah symbol dari nama malaikat Jibril.

Dalam tradisi Syiah, prinsip penafsiran eksoterik (penafsiran yang bersifat meluas) memainkan peranan yang sangat penting. Semua cabang pemikiran Ja’fari yang pada umumnya disepakati dipelopori oleh Imam keenam. Ja’far Muhammad al-Shadiq – yang juga dikenal sebagai sarjana besar Sunni dan Sufis masyhur – sesungguhnya lahir dari perenungan Ja’far terhadap huruf-huruf misterius itu. Komentator-komentator Syiah yang kemudian seperti al-Tabarsi, telah menganggap patut menempatkan eksplanasi-eksplanasi mistik dan cabalistik (yang bersifat rahasia) ini untuk disifatkan pada Imam keenam. Mengenai huruf alif misalnya, dia mengatakan: “Alif menunjukkan enam sifat Tuhan”. Yang pertama adalah “yang memulai karena Ia yang mengawali segala ciptaan, seperti huruf alif yang mengawali semua huruf”. Yang kedua adalah kejujuran dan kelurusan, “karena yang tegak lurus”. Demikian pula untuk yang ketiga dan keempat, Tuhan itu unik dan tunggal, seperti alif yang dalam penulisannya tidak bisa digabung tetapi sendiri, mutlak. Tuhan melingkupi semua ciptaan, dan tidak dilingkupi oleh segala ciptaan-Nya. Yang kelima adalah sifat kemerdekaan. “Semua makhluk membutuhkan Tuhan, tapi dia bisa mencakup diri-Nya dan tidak membutuhkan mereka”. Akhirnya yang keenam, fakta bahwa huruf alif tidak berhubungan dengan huruf lain, sementara huruf lain berkaitan dengannya. Alif yang terpisah dari huruf lain itu membuktikan keunikan Tuhan.


Berkembangnya penyebaran simbolisme Ja’far dalam literatur Sufi yang kemudian (misalnya Tawasin dalam al Hallaj; Futuhat al-Makkiya dalam Ibn Arabi; atau Mathnawi dalam Jalaludin Rumi) yang bisa disamakan dengan perkembangan Cabalisme dalam Judaisme abad pertengahan, semuanya berasal dari meditasi mendalam atas huruf-huruf misterius Qur’an itu.

Sumber Tulisan: Majalah Kiblat Edisi Edisi 5-20 Februari 1987

Related Post:

0 comments:

Post a Comment